Mbah Hasyim Tidak Memiliki Guru dari Habaib (Bani Alawi)?

Klaim "mustahil kronologis" Ki Imad tentang guru Mbah Hasyim dari Bani Alawi dibantah oleh catatan Ahmad bin Hasan Al-Attas sendiri


Ada tiga nama yang selama ini beredar sebagai guru Mbah Hasyim dari kalangan Bani Alawi: Husain Al-Habsyi, Ahmad bin Hasan Al-Attas, dan Alawi bin Ahmad Assegaf.

Imaduddin Utsman Al-Bantani (selanjutnya disebut: Ki Imad), menyebut ketiga nama itu sebagai fabrikasi. Karena Mbah Hasyim mustahil punya guru dari Habib (Bani Alawi).

Satu-satunya sumber yang mengaitkan nama-nama itu dengan Mbah Hasyim, menurut Ki Imad, adalah buku Asad Shahab yang terbit tahun 1971, ditulis tanpa referensi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebelumnya, saya sudah menemukan bukti materiel bahwa Husain Al-Habsyi benar-benar guru Mbah Hasyim (bukan berdasarkan keterangan Asad Shahab), melainkan tulisan tangan Mbah Hasyim sendiri.

Dan di artikel ini, kita akan menguji nama kedua: Ahmad bin Hasan Al-Attas. Karena tuduhan untuk nama ini jauh lebih keras!

Untuk nama Husain Al-Habsyi, Ki Imad berhenti pada argumen ketiadaan bukti. Tapi untuk Ahmad bin Hasan Al-Attas, ia melangkah lebih jauh: pertemuan antara keduanya tidak sekadar tidak terbukti, namun ia mustahil secara kronologis.

Argumennya bersumber dari kitab Uqud Al-Almas. Dari sana, Ki Imad menemukan keterangan bahwa Ahmad bin Hasan Al-Attas meninggalkan Makkah sekitar tahun 1279 H dan kembali ke Hadramaut. Sementara Mbah Hasyim baru tiba di Makkah pada tahun 1308 H (hampir 30 tahun kemudian).

Orangnya sudah pergi, muridnya belum datang. Pertemuan keduanya, simpul Ki Imad, tidak mungkin terjadi.

Argumen ini terdengar solid, bukan?

Masalahnya, ada satu detail yang luput dari perhatian Ki Imad (atau sengaja diabaikan).

Kitab Uqud Al-Almas bukan biografi lengkap Ahmad bin Hasan Al-Attas. Kitab itu hanya mengisahkan satu fase: masa belajarnya sewaktu remaja, ketika ia mondok di Makkah dan boyong kembali ke Hadramaut pada usia 21 tahun.

Itulah yang sedang diceritakan teks yang dikutip Ki Imad.

Tapi Ahmad bin Hasan Al-Attas wafat pada usia 77 tahun. Artinya, ada 56 tahun sisa hidupnya yang tidak dicakup oleh kutipan Ki Imad. Ia mengambil satu potongan dari satu fase kehidupan seorang manusia (hanya mondok), lalu menarik kesimpulan tentang seluruh sisa hidupnya.

Metodologi seperti ini bukan investigasi sejarah, ini namanya salah nalar yang paling dasar.

Dan kita tidak perlu berhenti di level kritik metodologis. Ada catatan konkret tentang apa yang dilakukan Ahmad bin Hasan selama puluhan tahun itu. Yang mencatatnya bukan pengamat luar, bukan biografi yang ditulis orang lain.

Yang mencatatnya adalah: Ahmad bin Hasan Al-Attas sendiri!

Kronologi temuan saya begini...

Di Hadramaut, ada seorang ulama dari kalangan Bani Alawi bernama Abu Bakr Al-Attas bin Abdullah Al-Habsyi. Ia lahir tahun 1328 H di desa Tsibi (dari sinilah muncul nisbat al-Tsibi yang melekat pada cabang keluarga Al-Habsyi ini).

Semasa hidupnya, Abu Bakr Al-Habsyi mengabdikan diri untuk meneliti dan men-tahqiq kitab-kitab ulama terdahulu, sebelum akhirnya menetap di Makkah hingga wafat pada tahun 1416 H.

Salah satu karya kompilasi Abu Bakr adalah Tadzkir Al-Nas min Kalam Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas (pengingat yang diambil dari ucapan-ucapan Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas).

Kolofon kitab mencatat bahwa kompilasi ini selesai disusun pada 22 Dzulqa'dah 1393 H. Artinya, teks ini tersusun 64 tahun sebelum Asad Shahab menerbitkan bukunya tentang Mbah Hasyim (1971).

Pada halaman 140 kitab tersebut, ada satu reportase yang seharusnya mengubah seluruh kerangka perdebatan ini. Di halaman itu, Ahmad bin Hasan Al-Attas ditanya tentang perjalanan pertamanya ke tanah Haramain.

Pertanyaannya tercatat seperti ini:

وسئل سيدي رضي الله عنه : عن أول سفر له إلى الحرمين ، فقال : سافرت أول سفر إليها سنة ١٢٧٤ أربع وسبعين ومائتين وألف ، وكان للحج فقط ورجعت إلى البلاد ، ثم سرت ثانيا سنة ١٢٧٥ خمس وسبعين ومائتين وألف لأجل تجويد القرآن ، وهذا السفر هو الذي صحبت فيه شيخنا السيد أحمد دحلان ، ومكثت فيه خمس سنين ، وانتفعت فيه بشيخنا السيد أحمد دحلان ، وبكثير من الصالحين ، ثم سرت ثالثا سنة ١٢٨٨ ثمان وثمانين ومائتين وألف ، ثم سرت رابعا سنة ١٢٩٨ ثمان وتسعين ومائتين وألف ، وفي هذا السفر قال لي شيخنا نريد منك الخروج إلى جبال الطائف ، لتدعو لي الله ، فاعتذرت إليه ، ثم سرت خامسا سنة ١٣٠٨ ثمان وثلاثمائة وألف للحج ولم أدركه ، وفي هذا السفر دخلت مصر ، ثم سرت العام الماضي سنة ١٣٢٥ خمس وعشرين وثلاثمائة وألف للحج والحمد لله .

Dalam jawabannya, Ahmad bin Hasan menyebutkan enam perjalanan ke Makkah sepanjang hayatnya.

  1. Perjalanan pertama tahun 1274 H, hanya untuk haji
  2. Perjalanan kedua tahun 1275 H, untuk belajar tajwid Al-Quran, dan di sinilah beliau berguru kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Syafi'iyah di Makkah, selama lima tahun
  3. Perjalanan ketiga tahun 1288 H
  4. Perjalanan keempat tahun 1298 H
  5. Lalu perjalanan kelima: tahun 1308 H. Awalnya untuk haji, tapi beliau tidak mendapati waktu wukuf di Arafah, sehingga tertinggal musim haji tahun itu. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ke Mesir
  6. Dan perjalanan keenam tahun 1325 H, yang ia sebut sebagai "tahun kemarin".

Jika tahun 1325 H disebut sebagai tahun lalu, maka wawancara itu terjadi pada tahun 1326 H. Dan perhatikan angka yang paling penting: 1308 H, tahun yang sama dengan kedatangan Mbah Hasyim ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Ki Imad membangun seluruh kasusnya di atas satu premis: Ahmad bin Hasan sudah tidak ada di Makkah ketika Mbah Hasyim tiba. Premis itu kini runtuh.

Kenapa?

Ahmad bin Hasan sendiri yang menyatakan bahwa ia ada di Makkah pada tahun 1308 H!

Tapi mungkin ada yang bertanya: berada di kota yang sama belum berarti guru dan murid. Bagaimana kita bisa tahu keduanya bertemu, apalagi terikat hubungan ilmu?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami siapa Ahmad bin Hasan Al-Attas di mata ulama Makkah saat itu.

Jika pembaca melihat perjalanan keduanya ke Makkah pada 1275 H (yang menghasilkan lima tahun berguru kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan), sebenarnya ini sekadar perjalanan, namun catatan akademis.

Saya menemukan surat-surat yang dikirimkan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan kepada Habib Ahmad, termasuk yang ditulis saat beliau boyong kembali pada 1280 H (kelak akan saya tampilkan). Dan dalam surat-surat itu, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sangat memuji Ahmad bin Hasan.

Ini, sih, bukan penghargaan biasa.

Di samping itu, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah guru dari Mbah Nawawi Banten dan Syaikhna Kholil Bangkalan, dua ulama nusantara yang sanad keilmuannya terhubung langsung dengan Mbah Hasyim Asy'ari.

Maksud saya begini...

Bayangkan posisi Gus Hasyim Asy'ari yang baru berusia 20-21 tahun, baru tiba di Makkah pada tahun 1308 H. Di kota itu ia mendapati seorang ulama yang dimuliakan oleh guru dari guru-gurunya sendiri, yaitu Ahmad bin Hasan Al-Attas.

Ulama yang, karena tertinggal musim haji, masih berada di Makkah dan kemungkinan besar mengajar sambil menunggu.

Pertanyaannya: mungkinkah Gus Hasyim, yang datang jauh-jauh dari Jombang ke Mekkah untuk menuntut ilmu (setelah haji), melewatkan kesempatan itu begitu saja?

Tentu saja sangat tidak mungkin!

Sekarang kita bisa melihat gambaran utuhnya. Ki Imad membangun seluruh kasusnya di atas dua argumen pokok.

Argumen pertama: tidak ada tulisan tangan Mbah Hasyim yang menyebut nama guru dari kalangan Bani Alawi. Argumen ini sudah roboh di artikel sebelumnya.

Kenapa?

Dalam Ziyadat Ta'liqat yang diselesaikan Mbah Hasyim pada 1352 H/1933 M, di halaman 47, dengan tangannya sendiri, Mbah Hasyim menulis:

وقال الإمام النووي في شرح مسلم عند الكلام على الحديث الذي حدثناه السيد حسين الحبشي بمكة المكرمة بسنده إلى الشيخ إسماعيل بن جراح

Kata haddatsanah (حدثناه) dalam tradisi periwayatan hadis punya makna teknis yang sangat spesifik: ia menunjukkan bahwa seorang periwayat duduk di hadapan gurunya, mendengar langsung dari mulutnya, dan menerima riwayat secara tatap muka.

Atau dalam istilah ilmu hadis: tahaqquqal-liqa' (terkonfirmasinya pertemuan langsung antara guru dan murid).

Ini bukan kutipan dari buku, lho, ya. Ini catatan pertemuan langsung, ditulis oleh Mbah Hasyim tentang pengalamannya sendiri.

Argumen kedua: Ahmad bin Hasan Al-Attas mustahil bertemu Mbah Hasyim karena sudah meninggalkan Makkah sebelum Mbah Hasyim datang.

Argumen ini juga sudah roboh.

Karena Ahmad bin Hasan sendiri yang menyatakan bahwa ia ada di Makkah pada tahun 1308 H, tahun yang sama dengan kedatangan Mbah Hasyim.

Perhatikan siapa yang merobohkan argumen-argumen Ki Imad?

Bukan Asad Shahab. Bukan pembela Bani Alawi. Bukan sumber sekunder yang bisa diragukan. Yang pertama adalah Mbah Hasyim sendiri. Yang kedua adalah Ahmad bin Hasan Al-Attas sendiri.

Dua sumber primer, ditulis langsung oleh pelaku sejarahnya.

Tentang Akarhanaf dan Asad Shahab

Ada satu detail yang perlu saya luruskan, karena Ki Imad menjadikannya salah satu pilar argumennya.

Ki Imad menunjuk pada fakta bahwa Akarhanaf, putra sekaligus murid langsung Mbah Hasyim yang menulis biografi ayahnya pada tahun 1948, tidak mencantumkan satu pun nama dari kalangan Bani Alawi.

Dari sini, Ki Imad menyimpulkan bahwa Asad Shahab mengarang nama-nama itu ketika menulis biografinya pada tahun 1971.

Tapi sekarang kita tahu: Mbah Hasyim sendiri sudah menuliskan nama Husain Al-Habsyi sejak tahun 1933, sekitar 38 tahun sebelum Asad Shahab menerbitkan apa pun tentang Mbah Hasyim.

Pertanyaan yang relevan bukan lagi "dari mana Asad Shahab mendapat nama itu", melainkan "mengapa Akarhanaf tidak menuliskan apa yang sudah ditulis oleh ayahnya sendiri?"

Itu pertanyaan yang menarik untuk ditelusuri. Tapi itu soal lain, dan jawabannya tidak akan mengubah fakta bahwa Mbah Hasyim yang menulis nama itu dengan tangannya sendiri.

Yang jelas: Ki Imad tidak hanya salah baca sumber. Ia membangun tuduhan fabrikasi atas nama Asad Shahab tanpa memeriksa apakah nama yang disebutnya itu sudah ada dalam sumber primer yang lebih tua.

Dan ternyata sudah ada dalam tulisan Mbah Hasyim itu sendiri.

Apa yang Tersisa dari Klaim Ki Imad?

Dari dua nama yang dipersoalkan Ki Imad, dua-duanya sudah terbantah oleh sumber primer.

Argumen "tidak ada bukti" sudah runtuh ketika Mbah Hasyim menulis nama Husain Al-Habsyi dengan tangannya sendiri.

Argumen "mustahil secara kronologis" sudah runtuh ketika Ahmad bin Hasan Al-Attas sendiri menyatakan kehadirannya di Makkah pada tahun yang sama dengan Mbah Hasyim.

Asad Shahab, yang dituduh Ki Imad menulis tanpa dasar, ternyata benar. Mbah Hasyim, yang disebut tidak punya guru dari kalangan Bani Alawi, ternyata menuliskan nama gurunya sendiri. Ahmad bin Hasan, yang disebut mustahil ketemu Mbah Hasyim, ternyata di Mekah pada tahun 1308 (tahun yang sama dengan Mbah Hasyim).

Dari dua nama yang disebut Asad Shahab ternyata sudah terverifikasi, lantas apa alasan yang tersisa untuk menganggap nama ketiga (Alawi bin Ahmad Assegaf) adalah karangan?

(artikel ini adalah bagian kedua penelusuran, untuk sebelumnya silakan klikBukti Tertulis 100 Tahun: Mbah Hasyim & Guru Habib])

Write a comment