Kenapa Sulit Memperbaiki Watak yang Sejak Awal Sudah Punya Kesimpulan?

Cukup sulit 'menaklukkan' orang yang selalu meminta dalil Al-Qur'an dan Sunnah untuk setiap hal yang akal saja tidak membutuhkan itu

ilustrasi Gus Ajir Ubaidillah & Ustaz Faris Baswedan
(dibuat dengan: Nano Banana)

Saya menulis ini setelah menonton perdebatan yang dihadiri Gus Ajir Ubaidillah dan Ustaz Faris Baswedan di kanal Herri Pras (YouTube) pada 16 Januari 2026. Dan perlu saya ulas terlebih dahulu bahwa kata 'watak' di dalam judul sebenarnya ditujukan kepada oknum tertentu (yang tidak lain adalah lawan debat kedua tokoh muda tersebut).

Namun, setelah saya pikir-pikir, sepertinya watak seperti ini tidak eksklusif dimiliki oknum, tapi seluruh manusia punya kecenderungan berwatak sama.

Begitu pun kata 'memperbaiki' sengaja saya pakai untuk konteks tertentu: otak yang seharusnya mudah memahami suatu perkara secara badihi (aksiomatik), namun dipersulit oleh cara berpikir yang ia tentukan sendiri (padahal cara kerja dunia belum tentu sesuai asumsi otaknya), maka perlu disetel ulang ke performa aslinya (default).

Nah, sisa tulisannya akan saya lanjutkan nanti. Namanya juga masih dummy~

Komentar

(4)
  1. Walau, teaser tiba'e 🤣

    BalasHapus
  2. Syifaul Qulub Amin17 Januari, 2026

    Dua jam nonton, hanya pakai dalil, mana dalil al-Qur'an dan haditsnya. Kalau ada, dari detik ini saya akan....... Polanya sama sejak, gak ada perubahan. Padahal sudah 2026, loh😁

    BalasHapus
  3. Mantap, lanjutkan tulisannya gus

    BalasHapus
  4. Padahal, ini sudah penasaran baca selengkapnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Tulis komentar Anda di bawah. Silakan berbicara apapun, asal sopan~