Sejak Kapan Banu Alawi Dikenal Sebagai Kabilah "Sadah"?

Ada insinuasi bahwa Ali Al-Sakran (w. 892 H.) ialah orang pertama yang memperkenalkan Baalawi sebagai sadah, benarkah?

Photo by Juli Kosolapova on Unsplash

Historiografi Banu Alawi (dikenal dengan “Baalawi”) patut diduga baru semarak dalam literatur sejak abad kesembilan hijriyah, dari periode Ali Al-Sakran ibn Abi Bakr ibn Abd Al-Rahman Al-Saqaf (w. 892 H.). Disebut semarak karena di abad inilah penanda zaman banyaknya literatur tentang Baalawi dari sejarawan cum ulama nasab.

Bagi sarjanawan skeptis, hal seperti ini cukup muskil jika tanpa didasari dengan informasi yang berantai dari masa ke masa hingga paling tua dan sezaman dengan pendiri klan, yaitu Sayid Alwi ibn Ubaidillah ibn Ahmad Al-Muhajir (w. 400/410 H.).

Karena semarak di abad kesembilan, lantas muncul kecurigaan bahwa Ali Al-Sakran ialah “biang kerok” kepopuleran Baalawi sebagai sadah, karena ia sendiri adalah seorang Baalawi. Kecurigaan ini terinspirasi argumentum e silentio, bahwa historiografi yang sunyi selama itu adalah karangan dan dibuat-buat oleh orang pada masa belakangan.

Namun, benarkah demikian?

Abad Kesembilan

Pada tahun 820 H., kala Ali Al-Sakran berumur dua tahun, Abd Al-Rahman Al-Khatib (w. 855 H.) memproduksi kitab Al-Jauhar Al-Syafaf yang berisi 500 hikayat kekeramatan tokoh-tokoh populer di Yaman. Pada hikayat paling awal, yaitu di Hikayat Al-Ula, Al-Khatib menulis genealogi Ali Khali’ Qasam disertai “daya linuwih” di dalam salat.

Singkatnya, keseluruhan isi kitab tersebut memastikan bahwa Baalawi dikenal sebagai sadah yang sufi dan kabilah kesalehan. Ini artinya, sebelum Ali Al-Sakran sudah ada jejak historis “Baalawi dikenal pada abad kesembilan dari informan non-Baalawi”.

Hikayat Pertama dari Al-Jauhar Al-Syafaf, yaitu kekeramatan Ali ibn Alwi yang dikenal dengan Ali Khali’ Qasam, disertai genealoginya sampai pada “Ubaidillah” ibn Ahmad ibn Isa Al-Alawi

Taqiyy Al-Din Al-Makki (w. 832 H.), dalam kitabnya Al-’Iqd Al-Tsamin pun memperkuat reportase Al-Khatib bahwa Baalawi dan Bin Jadid memiliki kekerabatan biologis sebagai alawiyin yang memiliki leluhur bersama bernama, yaitu Abdullah ibn Ahmad Al-Muhajir. Dan tentu saja, pada saat Al-’Iqd Al-Tsamin diproduksi, Ali Al-Sakran masih belum balig.

Silsilah Ali Bin Jadid dalam Al-Iqd Al-Tsamin yang menjadi kerabat biologis Baalawi dan memiliki common ancestor: Abdullah ibn Ahmad Al-Muhajir

Dari reportase keduanya dapat diketahui bahwa Abdullah dan Ubaidillah adalah orang yang sama, dan Baalawi sudah dikenal sebagai kabilah sadah!

Jadi, patut diduga kepopuleran Baalawi sudah ada sebelum Ali Al-Sakran lahir sekalipun~

Abad Kedelapan

Al-Janadi (w. 732 H.) dalam Al-Suluk fi Thabaqat Al-Ulama wa Al-Mulk mereportase tujuh orang Baalawi dengan sedikit tarajim. Ia mengisyaratkan Baalawi adalah kerabat biologis Bin Jadid setelah ia tulis genealoginya pada reportase thabaqat para Pendatang Ta’iz, dikenal dengan asyraf dari Hadlramaut.

Reportase Al-Janadi (w. 732 H.) untuk tujuh Baalawi setelah sebelumnya menuliskan silsilah Bin Jadid dan menyebutkan kedua kabilah ini memiliki kekerabatan biologis sebagai komunitas “Alu Abi Alwi”

Abad Ketujuh

Abu Barik (613–694 H.), lewat penukilan Al-Maqrizi (766–845 H.) me-nunjukkan jejak syuhrah-istifadlah (tasamu’) bahwa Abu Alawi ialah kabilah asal Yaman, dan salah dua tokohnya diatribusi sebagai Al-Alawi dan Al-Ba’alawi.

Ibrahim diatibusi sebagai Al-Alawi (keturunan Imam Ali) dari kabilah “Abu Alawi” dari Hadlramaut. Adiknya, Umar, diatribusi sebagai Al-Ba’alawi

Sayid Alwi ibn Ubaidillah diperkirakan wafat pada tahun 400–410 Hijriyah, atau abad kelima. Sedangkan uraian di atas mengkonfirmasi kepopuleran Baalawi sebagai sadah paling dekat pada abad ketujuh. Artinya, ada gap sekitar dua abad untuk menghubungkan kedua informasi tersebut sebagai riwayat yang tersambung secara literatur.

Apakah bakal ditemukan naskah yang lebih tua dari yang telah disuguhkan di atas yang bisa memastikan kesunyian historis tersebut menjadi lebih pendek?

Write a comment