Menelusuri Klaim Kepalsuan Al-Raudl Al-Jali dan Apa yang Sebenarnya Ditulis Baadzib (Sejarawan Yaman)
Dalam tulisannya tertanggal 27 Juni 2024, Kiai Imad kembali memakai kata pusakanya: palsu. Kali ini sasarannya adalah kitab Al-Raudl Al-Jali yang diklaim ditulis oleh Murtadla Al-Zabidi.
Vonis yang sama pun ia tuangkan dalam e-book terbarunya, Literatur Kitab-Kitab Nasab Abad Ketiga hingga Ke-13 Hijriyah, Bukti Terputusnya Nasab Ba'alawi.
Vonis palsu ini bukan berangkat dari telaah Kiai Imad sendiri. Ia menyandarkan argumennya sepenuhnya dan seutuhnya pada uraian Muhammad Baadzib, pen-tahqiq kitab Al-Raudl Al-Jali versi Dar Al-Fath. Tapi benarkah analisis Baadzib sesederhana itu?
Dalam tradisi pesantren, praktik memotong sebagian penjelasan lalu menyimpulkan sesuka hati dikenal sebagai batr al-kalam 'an siyaqih (memotong pernyataan dari konteks aslinya).
Artikel ini akan menelusuri apa yang sebenarnya ditulis Baadzib secara utuh.
Tiga Argumen Kiai Imad
Secara sederhana, Kiai Imad memakai tiga argumen untuk memvonis palsu manuskrip Al-Raudl Al-Jali. Pertama, jika seseorang mencari manuskrip itu di Khazanah Al-Wafa'iyah di Mesir, ia tidak akan menemukan manuskrip Al-Raudl Al-Jali.
Kiai Imad bahkan yakin seyakin-yakinnya bahwa manuskrip salinan tersebut tidak pernah ada. Maka, menurutnya, kepastian bahwa naskah ini disalin dari Murtadla Al-Zabidi tidaklah bisa dipastikan (ghairu maqthu').
Kedua, kepalsuan manuskrip ini juga sangat besar kemungkinannya karena Muhammad Qasim, penyalin kitab tersebut, tinggal di Mesir dan diduga bermain mata dengan Baalawi.
Ketiga, ada dugaan bahwa Baalawi bermain mata dalam penyalinan naskah tersebut untuk mempertahankan nasabnya. Kiai Imad bahkan menantang siapa saja untuk menghadirkan naskah dari Khazanah Al-Wafa'iyah jika memang naskah itu benar-benar ada.
Karena, menurutnya, Baalawi itu berani berdusta.
Apa yang Sebenarnya Dikatakan Baadzib?
Benar bahwa tidak ada naskah asli Al-Raudl Al-Jali yang ditulis langsung oleh tangan Murtadla Al-Zabidi. Satu-satunya naskah yang masih ada ialah salinan Muhammad Qasim, disimpan di Khazanah Al-Wafa'iyah di Mesir. Dari salinan itulah Tahir bin Alwi bin Tahir Al-Haddad kemudian menulis salinan lanjutannya.
Tapi tidak seperti itu penjelasan utuh Baadzib.
Saya sendiri sudah pernah berkunjung ke kediaman Baadzib di Mekah. Orangnya rendah hati, dan kami kadang berbeda pandangan soal historiografi Baalawi.
![]() |
| Abu Bakr Baadzib (kiri) dan penulis (peci hitam, seberangnya) yang serius mencatat apa saja yang penulis temukan di dalam perpustakaannya. Sensor penulis terapkan untuk alasan privasi. |
Bagi Baadzib, ada dua cara untuk menilai manuskrip Al-Raudl Al-Jali yang masih tersedia sekarang (lihat mukadimah: 47-50).
Cara Pertama: Menolak Mentah-Mentah
Cara pertama adalah tidak mempercayai Hasan Qasim 100%. Rekam jejaknya pada manuskrip Akhbar Zainabat yang ia sandarkan pada Yahya Al-Ubaidili memiliki cacat ilmiah. Dan Al-Raudl Al-Jali bisa saja bernasib sama seperti Akhbar Zainabat.
Satu hal yang perlu diperhatikan: sikap ini tidak dipilih oleh Baadzib sebagai pentahqiq.
Cara Kedua: Menimbang Kemungkinan secara Utuh
Inilah cara yang ditempuh Baadzib. Menurutnya, memang sulit memastikan apakah Al-Raudl Al-Jali benar-benar ditulis oleh Murtadla Al-Zabidi. Tapi bukan berarti kecurigaan pada salinan Hasan Qasim tidak bisa ditepis. Baadzib menawarkan lima alasan untuk itu.
Dan kelima alasan inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Kiai Imad dalam semua penjelasannya tentang Al-Raudl Al-Jali.
Lima Alasan yang Disembunyikan
Alasan pertama: memang Muhammad Qasim memiliki cacat ilmiah dalam Akhbar Zainabat, tapi belum tentu Al-Raudl Al-Jali bernasib sama.
Bagaimanapun, Muhammad Qasim punya rekam jejak intelektual yang berlimpah dan berfaidah, sehingga ia tidak sepenuhnya tidak bisa dipercaya.
Menurut Baadzib, seluruh isi Al-Raudl Al-Jali belum tentu semuanya salah, meskipun belum tentu juga seluruh isinya benar.
Alasan kedua: Murtadla Al-Zabidi, seperti intelektual lainnya, memiliki kitab yang belum dikenal siapapun.
Salah satunya Al-Tarajim Al-Mufidah, yang juga ditahqiq oleh Baadzib sendiri. Jadi ketiadaan informasi tentang Al-Raudl Al-Jali sebagai karangannya bukanlah sesuatu yang kontroversial.
Alasan ketiga: ada beberapa kekeliruan dalam Al-Raudl Al-Jali. Misalnya soal destinasi hijrahnya Imam Ahmad bin Isa, atau pertemuan Imam Ubaidillah dan Sayid Muhammad Maula Dawileh dengan orang yang tidak semasa dengannya.
Kekeliruan inilah yang dieksploitasi para pembatal nasab untuk menepis kitab Al-Raudl Al-Jali.
Tapi Tahir bin Alwi bin Tahir Al-Haddad, pentahqiq sebelumnya, sudah menjelaskan bahwa kekeliruan ini tergolong kecil dan masih bisa diluruskan.
Alasan keempat: dalam kitab-kitab nasab seperti Musyajjar Banil Hasan dan Musyajjar Banil Husain, Murtadla Al-Zabidi kerap menyebut nama-nama gurunya dari wangsa Baalawi.
Di antaranya Abdurrahman Al-Aydarus dan anaknya, Mustafa. Dan terdapat dua guru Murtadla Al-Zabidi dari Baalawi yang tidak ditemukan Baadzib kecuali termaktub dalam Al-Raudl Al-Jali. Kedua Baalawi tersebut ialah Abdurrahman bin Alwi Shahibul Buthaiha' dan Ali bin Syaikh bin Shahab.
Dalam Tajul Arus misalnya, meskipun itu kitab tentang bahasa, Murtadla Al-Zabidi tetap sering menyisipkan nama-nama gurunya meski kesempatannya sangat kecil. Pola ini konsisten di seluruh kitab-kitabnya.
Alasan kelima: Murtadla Al-Zabidi memang punya keinginan yang tinggi untuk menulis kitab-kitab nasab secara spesifik berdasarkan marga-marga tertentu. Seperti kitab nasab Bani Ja'far Al-Thayyar, Bani Abbas, nasab-nasab dari klan Hawaroh, dan lainnya.
Melihat rekam jejak dan kesungguhannya, Al-Raudl Al-Jali memiliki konektivitas yang jelas dengan niatan Murtadla Al-Zabidi menulis kitab-kitab nasab marga tertentu. Tidak jauh dari ekspektasi jika ia menulis kitab spesifik tentang nasab Bani Alawi seperti Al-Raudl Al-Jali, karena kecintaannya pada Baalawi sudah diketahui umum secara luas.
Dan inilah yang membuat Murtadla Al-Zabidi masuk ke dalam daftar Thabaqat Al-Nassabin (barisan para pakar nasab).
Proporsi yang Benar
Bayangkan jika tidak ada yang pernah menyebut kelima penjelasan Baadzib ini, dan hanya menyampaikan cara pertama saja. Tentu saja orang-orang akan percaya bahwa Al-Raudl Al-Jali mustahil ditulis oleh Murtadla Al-Zabidi.
Padahal, menurut Baadzib, disebut muhtamal (kemungkinan) itu karena salinan Muhammad Qasim yang problematik, bukannya penisbatan kitab ini kepada Murtadla Al-Zabidi.
Dan masih ada banyak kemungkinan yang lebih besar dari penjelasan Baadzib yang bisa saya tunjukkan, bahwa manuskrip ini memang disalin dari catatan tangan Murtadla Al-Zabidi, kecuali beberapa bagian yang sudah dipastikan Baadzib tidak mungkin berasal dari Murtadla Al-Zabidi.
Saat membahas salinan Hasan Qasim yang problematik, Baadzib hanya memberikan satu alasan saja, yaitu rekam jejaknya pada manuskrip salinan Akhbar Al-Zainabat. Itu pun dijelaskan dalam satu paragraf berisi 5 baris penjelasan saja.
Sedangkan penjelasan tentang kemungkinan Al-Raudl Al-Jali memang ditulis oleh Murtadla Al-Zabidi, Baadzib uraikan dalam 2 halaman plus 6 baris penjelasan.
Bayangkan diminta mendeskripsikan dua orang: satu tidak penting, satu sangat penting bagi kehidupan kita. Akal kita secara otomatis akan menjelaskan orang yang penting dengan jauh lebih panjang, lebar, dan detail.
Sedangkan yang tidak penting, kita jelaskan seperlunya saja. Yang penting bukan hitungan halaman, tapi apa yang bisa kita baca dari niat seorang peneliti.
Seperti itulah isi kepala Baadzib ketika menjelaskan kemungkinan sahihnya manuskrip Al-Raudl Al-Jali. Karena Baadzib sendiri menyatakan bahwa kekeliruan isi dari Al-Raudl Al-Jali tergolong mudah untuk ditaklukkan.
Bantahan?
Setelah membaca seluruh penjelasan Baadzib tadi, kemungkinan Kiai Imad akan beralasan bahwa Baadzib cuma berbasa-basi dalam kelima penjelasan di atas, dan bisa jadi karena faktor kedekatan dan tidak enak saja terhadap Baalawi.
Muhammad Baadzib tidak sekali-dua memberikan penilaian buruk atau jarh (kritik terhadap kredibilitas) kepada Baalawi. Salah satunya ialah terhadap Sayid Salim bin Jindan. Bahkan Kiai Imad sendiri memakai jarh Baadzib ini.
Ia memvonis manuskrip salinan yang saya temukan sebagai palsu hanya karena Sayid Salim bin Jindan yang menulis ulangnya.
Saya rasa akal sehat tidak akan melihat Baadzib hanya berbasa-basi dalam memberikan kelima alasan tentang Al-Raudl Al-Jali, karena justru alasan Kiai Imad terlalu mengada-ada.
Beban Pembuktian Terbalik
Jadi, alasan apalagi untuk mengatakan manuskrip ini 100% palsu, padahal Baadzib, orang yang menelaah langsung manuskrip Al-Raudl Al-Jali, tidak pernah mengatakannya?
Alih-alih membuktikan klaim kepalsuan ini secara argumentatif, justru Kiai Imad menyuruh orang-orang membuktikan bahwa manuskrip ini memang asli dengan mendatangkan manuskripnya dari Mesir.
Ini sikap yang tidak mengerti bahwa beban pembuktian itu harus datang dari si penuduh, bukan yang dituduh.
Untuk membuktikan manuskrip ini palsu, haruslah argumentatif seperti Baadzib yang justru mengatakan sebaliknya. Kalau cuma asumsi dan asal tuduh palsu, anak kecil pun sanggup melakukannya.


Write a comment
Posting Komentar
Tulis komentar Anda di bawah. Silakan berbicara apapun, asal sopan~